Pada tanggal 25 Oktober 1945,
pasukan sekutu di bawah pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby mendarat di
Surabaya. Pada awalnya pemerintah dan rakyat Indonesia menyambut kedatangan
tentara sekutu dengan baik. Akan tetapi, pihak sekutu mengabaikan, bahkan pada
tanggal 26 Oktober 1945 sekutu menyerbu penjara Republik Indonesia tempat
menahan perwira – perwira sekutu. Tujuan sekutu menyerbu penjara adalah ingin
membebaskan tentara sekutu dan pegawai RAPWI (Relief of Allied Pricorners of
War Internees) .
Akibat sikap sekutu yang tidak
menghormati pemerintah Indonesia, akhirnya pejuang arek – arek Surabaya marah,
mereka menyerbu pos-pos sekutu yang ada di Surabaya. Dalam peristiwa tembak
menembak di Jembatan merah, Brigadir Jendral A.W.S. Mallaby tewas. Akibat
peristiwa itu, pemimpin tentara sekutu mengeluarkan Ultimatum pada tanggal 9
November 1945. Isinya adalah “semua pemimpin dan orang orang yang bersenjata
harus melapor dan meletakan senjatanya di tempat yang sudah ditentukan, dan
menyerahkan diri selambat lambatnya jam 06.00 pada tanggal 10 November 1945.
Jika sampai batas waktu yang ditentukan tidak menyerahkan senjata, rakyat
Surabaya akan diserang dari udara, laut, dan darat”
Ultimatum
itu tidak dihiraukan oleh rakyat Surabaya. Arek arek Surabaya dibawah pimpinan
gubernur Surabaya, Suryo, dibantu oleh Sungkono, dan seorang pemuda yang gagah
berani, Bung Tomo. Bung Tomo berhasil membakar semangat arek arek Surabaya
melalui pidatonya di radio. Bung Tomo adalah seorang pemimpin barisan
pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI)
Akibat ultimatum tidak dihiraukan
oleh arek arek Surabaya maka tepat jam 06.00 sekutu menggerakan lebih dari satu
divisi infantry, yaitu divisi India ke-5 serta sisa pasukan Brigade Jendral A.W.S. Mallaby. Jumlah mereka
seluruhnya antara 10 sampai 15 ribu orang tentara.
Pertempuran berlangsung hampir 3
minggu, Inggris mengerahkan semua kekuatannya dan berhasil menguasai kota
Surabaya. Arek arek Surabaya mulai terdesak mundur. Walaupun mendapat ancaman,
mereka tidak gentar. Mereka bersemboyan “sekali merdeka tetap merdeka, lebih
baik mati berkalang tanah daripada hidup dijajah”. Untuk memperingati
kepahlawanan rakyat Surabaya, pemerintah Indonesia menetapkan tanggal 10
November sebagai hari pahlawan. Kota Surabaya dijuluki sebagai Kota Pahlawan
dan dipusat kota dibangun sebuah monument atau tugu pejuangan
Catatan : Para pahlawan
berjasa kepada bangsa dan Negara karena dapat mengusir penjajah, meraih
kemerdekaa, dan mempertahankan kemerdekaan. Dengan perjuangan mereka, kita
dapat bersekolah dengan aman dan dapat mencapai cita-cita yang kita inginka.
Oleh karena itu, kita harus menghargai jasa mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar