Kamis, 23 Juli 2015

Peristiwa 10 November di Surabaya



           Pada tanggal 25 Oktober 1945, pasukan sekutu di bawah pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby mendarat di Surabaya. Pada awalnya pemerintah dan rakyat Indonesia menyambut kedatangan tentara sekutu dengan baik. Akan tetapi, pihak sekutu mengabaikan, bahkan pada tanggal 26 Oktober 1945 sekutu menyerbu penjara Republik Indonesia tempat menahan perwira – perwira sekutu. Tujuan sekutu menyerbu penjara adalah ingin membebaskan tentara sekutu dan pegawai RAPWI (Relief of Allied Pricorners of War Internees) .
            Akibat sikap sekutu yang tidak menghormati pemerintah Indonesia, akhirnya pejuang arek – arek Surabaya marah, mereka menyerbu pos-pos sekutu yang ada di Surabaya. Dalam peristiwa tembak menembak di Jembatan merah, Brigadir Jendral A.W.S. Mallaby tewas. Akibat peristiwa itu, pemimpin tentara sekutu mengeluarkan Ultimatum pada tanggal 9 November 1945. Isinya adalah “semua pemimpin dan orang orang yang bersenjata harus melapor dan meletakan senjatanya di tempat yang sudah ditentukan, dan menyerahkan diri selambat lambatnya jam 06.00 pada tanggal 10 November 1945. Jika sampai batas waktu yang ditentukan tidak menyerahkan senjata, rakyat Surabaya akan diserang dari udara, laut, dan darat”
Ultimatum itu tidak dihiraukan oleh rakyat Surabaya. Arek arek Surabaya dibawah pimpinan gubernur Surabaya, Suryo, dibantu oleh Sungkono, dan seorang pemuda yang gagah berani, Bung Tomo. Bung Tomo berhasil membakar semangat arek arek Surabaya melalui pidatonya di radio. Bung Tomo adalah seorang pemimpin barisan pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI)
            Akibat ultimatum tidak dihiraukan oleh arek arek Surabaya maka tepat jam 06.00 sekutu menggerakan lebih dari satu divisi infantry, yaitu divisi India ke-5 serta sisa pasukan  Brigade Jendral A.W.S. Mallaby. Jumlah mereka seluruhnya antara 10 sampai 15 ribu orang tentara.
            Pertempuran berlangsung hampir 3 minggu, Inggris mengerahkan semua kekuatannya dan berhasil menguasai kota Surabaya. Arek arek Surabaya mulai terdesak mundur. Walaupun mendapat ancaman, mereka tidak gentar. Mereka bersemboyan “sekali merdeka tetap merdeka, lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup dijajah”. Untuk memperingati kepahlawanan rakyat Surabaya, pemerintah Indonesia menetapkan tanggal 10 November sebagai hari pahlawan. Kota Surabaya dijuluki sebagai Kota Pahlawan dan dipusat kota dibangun sebuah monument atau tugu pejuangan


Catatan : Para pahlawan berjasa kepada bangsa dan Negara karena dapat mengusir penjajah, meraih kemerdekaa, dan mempertahankan kemerdekaan. Dengan perjuangan mereka, kita dapat bersekolah dengan aman dan dapat mencapai cita-cita yang kita inginka. Oleh karena itu, kita harus menghargai jasa mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar